|
 | JANGAN TERGODA UNTUK MAKAN APEL ITU! BACA SAJA BLOG INI. | Dec 29, 2007 |
WELCOME, MY FRIENDS. NEVER TELL ANYONE THAT YOU HAVE SEEN THIS COOL BLOG. GET THE PASSION OF APPLE. DON'T BE A SINNER. BE AN ILLUMINATOR.  | Pulang | Aug 19, '10 1:11 AM for everyone |
Semua yang mempunyai asal tentu akrab dengan kata 'pulang'. Burung pulang ke sarang, manusia pulang ke rumah, ke kampung halaman masing-masing.
Pada musim-musim tertentu, pulang bahkan seolah menjadi sebuah 'keharusan'. Pelabuhan laut dan udara, terminal-terminal bus, dan poin-poin keberangkatan lainnya akan ramai oleh manusia yang ingin 'mudik' - kembali ke tanah 'asal' mereka. Banyak yang beruntung; dan tak sedikit pula yang tak mendapatkan 'jalan mulus' untuk kembali pulang.
Pulang menandai sebuah akhir atau bagian ujung dari sebuah episode perjalanan, jauh ataupun dekat. Menjenguk kembali 'asal' seolah menapak kembali jejak perjalanan keberangkatan dengan versi yang bertolak belakang.
Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah upaya untuk mengisi kembali 'baterai' hidup yang mungkin saja hampir kosong selama berada di sebuah tanah rantau. Dengan pulang, ada tenaga baru yang akan terisi kembali seiring gelak-tawa, tangis-haru ataupun canda-gurau bersama orang-orang terdekat - yang pada masa tertentu tidak bisa kita jumpai dalam keseharian.
Kembali menginjakkan kaki di rumah dan bertemu dengan teman-teman masa kecil tentu menciptakan ketentraman tersendiri dalam hati. Memang, pasti selalu ada yang berubah - hal tentu sangat alamiah dialami oleh semua makhluk dan materi fana. Kita bisa saja tak lagi menjumpai orang-orang yang dulu pernah akrab dalam kehidupan masa lalu; dan di sisi lain juga terbuka kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang baru dengan karakter yang baru pula. Keluwesan bergaul dan bersikap pun sangat dituntut dalam menyikapi perubahan ini.
Saya akan pulang. Anda akan pulang. Semua akan pulang. Untuk sementara, ke kampung halaman masing-masing. Namun, suatu hari kelak, kita akan sama-sama pulang menuju Zat Yang Satu. Ke hadapan Yang Maha Mempunyai Rumah.
Oleh: Afri Meldam
Jika melakukan perjalanan wisata ke pulau Batam, satu dari sejumlah destinasi utama yang akan disarankan pastilah Pantai Sekilak. Pantai yang berlokasi di Batu Besar, Kecamatan Nongsa ini memang telah menjadi tempat pilihan utama untuk menghabiskan akhir pekan dan liburan bagi warga sekitar maupun pelancong.
Dibandingkan dengan objek wisata pantai lainnya di Batam, Pantai Sekilak memang unik dan karenanya paling ramai dikujungi. Pantai berkarang merah yang bersisian dengan pantai Melayu ini menyajikan panorama laut yang sangat memukau dan memanjakan mata. Berdiri di atas dinding karang besar yang menyembul seolah benteng di ujung tanjung Sekilak, lanskap laut berwarna hijau zamrud terhampar di depan mata. Kesempatan untuk mengabadikan momen eksotis tersebut tampaknya jarang dilewati oleh setiap pengunjung.
Debur ombak Sekilak Selain pemandangan sekitar kawasan pantai yang indah, daya tarik lain dari pantai Sekilak adalah deburan ombak kuat yang menghempas karang. Karena jaraknya yang cukup jauh dari pulau-pulau kecil yang mengelilingi perairan Batam, ombak dan arus di pantai ini memang cukup deras, terutama pada sore hari. Namun, pada waktu-waktu tertentu, di saat ombak tak terlalu kuat, seperti saat saya berkunjung ke sana beberapa pekan lalu, para pengunjung tampak asyik berenang di bawah tebing karang di ujung kawasan Pantai Sekilak. Mereka tampak menikmati sekali mandi air laut bersama teman atau kekasih sambil sesekali mencoba menyisir bagian lain dari pantai tersebut.
Pantai Sekilak yang bersih telah menarik minat banyak orang untuk berkunjung. Meski harus merogoh kocek untuk masuk kawasan pantai dan biaya parkir kendaraan, jumlah pengunjung ke Sekilak, menurut warga setempat, tak pernah berkurang. Maklum, Pantai Sekilak menyajikan pemandangan yang ‘beda’ di antara pantai-pantai lain di Pulau Batam yang umumnya berair keruh (akibat limbah minyak) dan berlumpur.
Kawasan wisata Pantai Sekilak memang telah dikelola secara profesional dengan membangun beberapa fasilitas penunjang seperti penginapan, tempat ibadah, panggung hiburan, toilet dan pemandian umum. Selain itu, pengembang kawasan ini pun juga telah menyediakan sarana outbound training, yang sering dimanfaatkan oleh perusahaan-perusahaan di pulau industri tersebut untuk melatih semangat kebersamaan para karyawan melalui aneka permainan yang menantang dan edukatif.
Jika dilihat dari pola pembangunannya, kawasan Pantai Sekilak memiliki dua tanjung, yang dihubungkan oleh dam penahan abrasi yang cukup lebar. Di tanjung utama tempat gerbang masuk, pengunjung bisa menikmati keindahan pantai Sekilak yang ditumbuhi tumbuhan bakau dan vegetasi pantai lainnya yang sebagian besar masih alami. Bagian tanjung ini, dipandang dari kejauhan, seperti guyonan seorang teman yang bekerja di Batam, akan terlihat menyerupai Tanah Lot di Bali.
Sementara, di tanjung satu lagi, terdapat panggung hiburan, wahana permainan anak dan lokasi outbound. Sebuah danau mini hasil pembendungan pantai yang terletak di tengah-tengah dua tanjung tersebut digunakan sebagai sarana permainan air. Sepeda bebek adalah salah satu dari beberapa atraksi hiburan yang bisa Anda coba di danau ini.
Mengingat kesibukan penduduk sebuah pulau industri seperti Batam, maka tak heran jika kawasan wisata di sana hanya ramai pada hari-hari libur saja. Pada hari-hari biasa (Senin-Jumat, dan terkadang juga Sabtu) kecuali kawasan wisata yang telah dikelola secara profesional seperti Sekilak, pantai-pantai lain di sekitar daerah Batu Besar bisa Anda kunjungi tanpa harus membayar sepersen pun alias gratis. Alhasil, pada hari-hari biasa, pantai-pantai ini akan sepi pengunjung. Saat-saat seperti itulah sering dimanfaatkan oleh muda-mudi untuk berdua-duaan dengan sang kekasih di Sekilak.
Hidangan laut Penat bermain di pantai, perut tentu lapar. Namun Anda tak perlu cemas. Di sekitar Pantai Sekilak, tepatnya ke arah pantai Melayu, Anda akan dengan mudah menemui café dan restoran yang menyediakan aneka hidangan laut. Karena daerah tersebut juga merupakan perkampungan nelayan, maka hidangan laut yang disajikan terjamin kesegarannya. Bagi Anda yang alergi seafood juga bisa menikmati menu lain yang disediakan di tempat-tempat makan sepanjang pinggir pantai.
Perjalanan menuju Pantai Sekilak hanya memakan waktu sekitar lima belas menit dari bandara internasional Hang Nadim. Sangat dekat, bukan? Nah, bagi Anda yang akan berpelesir ke Batam, silakan masukkan Pantai Sekilak sebagai salah satu tujuan perjalanan wisata Anda. Saya yakin, Anda tak kan pernah melupakan keindahan lanskap dan debur ombak Pantai Sekilak, yang merupakan satu dari destinasi wisata yang direkomendasikan dalam agenda Visit Batam 2010.
Oleh: Afri Meldam
Pokoknya kali ini saya harus ke Barelang! Itulah tekad dalam hati ketika saya memperoleh ‘kesempatan kedua’ melakukan perjalanan ke pulau Batam. Dalam kunjungan sebelumnya, saya sungguh merasa rugi karena tak sempat melihat langsung jembatan yang menghubungkan tiga pulau yakni Batam, Rempang dan Galang yang telanjur menjadi ikon pulau industri tersebut.
Kunjungan saya kali ini ke pulau yang berbatasan langsung dengan Singapura itu bertepatan dengan Tahun Kunjungan ke Batam (Visit Batam 2010) yang sedang giat-giatnya dipromosikan oleh pemerintahan otorita Batam. Mulai dari Bandara Hang Nadim hingga ke jalan-jalan utama di pusat kota Batam, Anda akan melihat balihi-baliho besar tentang tahun kunjungan pariwisata tersebut.
Semilir angin Barelang Waktu yang tepat ke Barelang, menurut seorang teman yang sudah bekerja di Batam sejak tiga tahun lalu, adalah sore hingga malam, di saat sinar matahari sudah tidak terlalu ‘memanggang’. Namun, karena tidak sabar lagi ingin menjejakkan kaki di jembatan yang telah menjadi landmark pulau tersebut, maka kami pun berangkat menuju Barelang sekitar tengah hari.
Kami ke Barelang menggunakan sepeda motor, karena memang jalur angkutan umum menuju ke sana tidak ada. Biasanya pelancong yang ingin menikmati kemegahan Barelang membawa kendaraan pribadi atau menyewa mobil.
Berangkat dari daerah Nongsa, kami menghabiskan waktu kurang lebih hanya setengah jam dengan kecepatan sedang untuk mencapai Barelang. Begitu lepas dari jalan yang melintasi perbukitan bertanah kuning, anjungan Jembatan 1 Barelang pun terlihat menjulang.
Meski terik, begitu sampai di Jembatan 1, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto. Saat tengah hari seperti itu memang ‘aman’ untuk melampiaskan hasrat narsistik karena belum banyak pengunjung yang datang.
Selesai mengabadikan beberapa momen di Jembatan 1, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Jembatan 2. Berbeda dengan Jembatan 1 yang berasitektur ‘megah’, konstruksi Jembatan 2 terlihat ‘biasa-biasa’ saja. Namun, soal pemandangan, jembatan yang satu ini juga menyajikan sesuatu yang ‘menyengarkan’: puluhan perahu nelayan yang dicat dengan warna-warna cerah tampak sedang ditambatkan di dermaga, sementara beberapa orang pemancing mencoba keberuntungan di bawah jembatan.
Ketika sinar matahari sudah mulai bersahabat, kami pun kembali ke Jembatan 1. Pengunjung dan pedangan saat itu sudah mulai memenuhi kedua sisi jembatan. Cuaca hari itu sangat cerah. Langit terlihat bersih. Jajaran pulau di yang terhampar di perairan Batam terpampang jelas dari atas kedua jembatan. Perahu bermotor, kapal pengangkut pasir dan speedboat yang sesekali melintas di bawah jembatan menambah nuansa bahari di sana.
Duduk sambil menikmati jagung bakar atau udang goreng di pinggiran jembatan memang menimbulkan kenikmatan tersendiri. Bagaimana tidak, di saat lidah asyik mencecap sedapnya kudapan, semilir angin datang bertiup dengan kencang – seolah ingin menerbangkan apa saja. Sementara itu, mata pun dimanjakan oleh indahnya pemandangan laut.
Bagi yang kurang ‘sreg’ dengan jajanan pinggir jalan, Anda bisa menjajal café dan warung-warung makan yang ada di kedua sisi pangkal dan ujung jembatan. Sementara bagi yang berkantong tebal bisa juga menikmati sajian makanan laut di beberapa restoran berkelas yang dibangun di sekitar kawasan tersebut.
Jembatan Barelang sebenarnya terdiri dari 6 rangkaian jembatan. Namun, pada kesempatan kali itu saya hanya bisa mengunjungi dua buah jembatan saja. Meski demikian, Jembatan 1 tetaplah yang paling populer di antara semuanya, dan saya pun tak perlu merasa kecewa.
Kurang siap Jika melihat kondisi secara umum di Barelang, khususnya di kawasan Jembatan 1, bisa disimpulkan bahwa pemerintah otorita Batam kurang siap dalam menghadirkan ‘sapta pesona wisata’ kepada para pengunjung. Puluhan pedagang dengan gerobak jualan masing-masing ‘berkeliaran’ hilir-mudik di sepanjang Jembatan 1. Belum lagi perilaku pengunjung yang seenaknya saja memarkir kendaraan (sepeda motor, mobil pribadi ataupun bus wisata) di kedua sisi jalan. Hal tersebut jelas mengganggu pemandangan ‘bagus’ yang tersaji di seputaran Barelang.
Selain itu, sampah bungkusan makanan pun terlihat berserakan di pinggir jembatan. Angin laut yang kencang di sekitar jembatan memang pada akhirnya akan menerbangkan sampah-sampah tersebut ke laut, namun inilah yang kemudian akan menjadi masalah besar jika dibiarkan berlarut-larut. Sampah-sampah tersebut tentu akan mencemari laut, yang pada gilirannya juga akan berdampak buruk bagi masyarakat.
Sebelum ke Barelang, saya telah membayangkan bahwa di sana saya bisa membeli beberapa suvenir (baju bergambar jembatan Barelang atau sekadar gantungan kunci) khas Batam yang bisa dijadikan buah tangan. Namun rupanya saya salah. Tak ada satupun kios suvenir yang kami temukan baik di Jembatan 1 maupun Jembatan 2 Barelang. Inilah hal yang sepertinya juga luput dari ‘strategi’ pemasaran wisata Batam.
Meski demikian, perjalanan ke Barelang sore hari itu sungguh sangat berkesan.
Manusia, kata filsuf Aristoteles adalah zoon politicon alias makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupannya, manusia, dengan demikian, tak bisa lepas dan melepaskan diri dari lingkungan sosialnya. Manusia - yang tak satupun yang sempurna - saling membutuhkan satu sama lain. Hidup sendiri jelas bukan merupakan ide yang bagus.
Interaksi sosia bagi makhluk sosial memang merupakan sebuah keniscayaan dan tindak lanjut dari ketidaksempurnaan yang kita punya. Dengan adanya interaksi, manusia saling melengkapi satu sama lain, dan dengannya ketidaksempurnaan tersebut bisa 'diminimalisir'. Hadirnya individu lain dalam ranah kehidupan seseorang akan membuat pribadi yang bersangkutan merasa 'terisi' dan 'terlengkapi. Layaknya 'God Spot' dalam hati setiap insan, ternyata juga ada semacam 'ruang hampa lain' dalam diri manusia yang terus merindukan 'teman' - individu lain untuk berbagi rasa bahagia, sedih, marah, kesal, prihatin, cinta, dan lain-lain.
Hubungan sosial juga merupakan manifestasi akan tuntutan pencarian makna kehidupan bagi setiap individu. Makna kehidupan hanya akan didapat ketika kita mempunyai 'partner' untuk berbagi ide, nilai, dan norma-norma tentang standar-standar yang ada di masyarakat. Ruang hampa dalam diri manusia akan tetap kosong jika keterlibatan orang lain dalam penggapaian makna kehidupan dianggap sebagai 'rumput pengganggu'.
Kehadiran individu lain dalam kehidupan kita akan membawa kita lepas dari ruang ego yang selalu mengungkung dan menuntut pengakuan akan 'kehebatan sang aku'. Berbagi 'dunia' dengan individu-individu lain akan membawa kita pada jalan pencerahan, di mana 'sang aku' akan merasa bernilai ketika ia mampu memberikan 'sesuatu yang baik' kepada yang lain. Absennya individu lain dalam hidup 'aku' hanya akan memadamkan nyala api yang telah coba dihidupkan sejal lahir.
Maka, ketika suatu ketika ada orang yang datang meminta setetes minyak untuk menghidupi lampunya, jangan sembunyikan tangan kita. Berilah ia minyak itu. Karena, semakin banyak kita memberikan 'cahaya', cahaya diri kita akan semakin 'benderang.
Urbanization, migration, language choice and prestige: A case study of students and workers from Sumpur Kudus, Sijunjung, West SumatraBy Afri MeldamMobility such as urbanization and migration of a group of speaker to another area will bring some changes into the language spoken by the immigrants. In the regards of this, Peter Auer (2005) points out that migration and the subsequent dialect contact between a brought-along variety and the one spoken in the receiving area can lead to a durable change in speech habits of the immigrant group. What he means is that a permanent moving of a group of speaker to certain places (within the same language area) will influence the language of the speakers; that the recieving language (dialect) will affect them so much. This essay concerns on discussion about the influences of urbanization and migration toward the language choice of Sumpur Kudus people, especially the students and the workers , who have had a contact with different (respectively) dialects and language. The influences I will concern on include the choice of words (lexical level) and the choice of kinship terms as well. In the end of the essay, I will relate these circusmstances to language prestige. The last objection of the essay will explain the motivations of the people to choose certain vocabularies or words for the language they speak. Sumpur Kudus and the language at a glance Sumpur Kudus is a sub-district (nagari) in Sijunjung regency, West Sumatra. The people speak Minangkabau (Sumpur Kudus dialect) as their mother tongue, which is closely related to Payakumbuh dialect, as both are geographically near. The characteristic of Sumpur Kudus (as well as Payakumbuh) dialect is it uses many ‘o’ as replacement for ‘a’ in a ‘standard’ Minangkabau. For example:
‘Standard’ Minang’ Sumpur Kudus ‘dialect’ Meaning Angok Ongok Breathe Bancah boncah Swamp Lalok Lolok Sleep Paniang Poniang Dizzy Galok Golok Dark Table 1. Comparison of Sumpur Kudus local dialect with the ‘standard’ Minang. Urbanization and effects on word choice Urbanization is a mobility of a rural (village) area people to the urban (city). In Minangkabau culture, the mobility to another place has been rooted and occured since a long time, in particularly for the youths. The Minangkabau term for this called ‘marantau’, which basically has three purposes, they are academic (to study outside), economic (to trade) and to seek new experience. Urbanization process of Sumpur Kudus people develops rapidly after the opening of road toward the area (early 1970’s). Before that, the access to and from Sumpur Kudus was very difficult since the only transportation mode used was kudo boban (a small-sized horse that was functioning as goods and commodities carrier). But, in the late 1970’s, as the road access to Sumpur Kudus was pioneered and the modern transportations such as motorbikes, buses and cars made their way to break the isolated area, the relationship with another regions became easier. The people frequently travel to neighboring regencies such as Batusangkar, Payakumbuh, Bukittinggi, Padang, etc. The mobility and contact with people from various different backgrounds in those areas for such a long period give influence towards the language in terms of words choice used by the students, traders or workers from Sumpur Kudus. As they have had contact with the people outside their native village, the Sumpur Kudus people are influenced to change the words they used to refer to ‘something’. Though in their native Sumpur Kudus dialect they have such a term for certain words, but they will prefer to use a ‘standard’ Minangkabau (which has been also got a more or less influence from Bahasa Indonesia). Thus, the process of changes of word choice in Sumpur Kudus occurs in two steps. First, Bahasa Indonesia affects the ‘standard Minangkabau’ (used in Padang, Bukittinggi, etc, where students and workers form Sumpur Kudus live(d)). Second, the ‘standard Minangkabau’ affects the Sumpur Kudus dialect, in terms of lexical level. As I emphasized before, urbanization makes some changes in terms of word choices (vocabulary) and also a bit in accent. For example: when a man speak to a woman, in Sumpur Kudus it’s common and sound polite if the man just call her with ‘(k)au’ and call yourself ‘(a)den’. But, for some people who ever have experienced to live in another region (where Minang is still used as the first language), some changes occur. To the pronoun ‘I’, for instance, a man will opt to use ‘awak’ rather than ‘aden’. ‘Kau’ (you) will be replaced by the name of the girl he speaks to. It is in accorance with Aikenvald (2002) statement that ‘the choice of a word or even a pronunciation of a word may signal social and attitudinal information over and above the purely information carried by the word itself’ (102). The tendency to adjust the word choice when speaking to someone indicates that the speaker wants to give some impression toward his adresse. In the case above (the conversation between man and woman), the man wants to show the woman that he is a polite guy. In other words, as Aikenvald goes on, the different ways of talking carry different social meaning, perhaps signalling casualness and intimacy, or authority, formality and prestige. Sumpur Kudus people who never go outside the village might not know the meaning of such words as ‘pink’ (as they call it ‘sigha mudo’), ‘biru’ (blue) or marun (maroon), because they call them ijau lawik’ and ati ayam respectively.Besides, some old generations prefer to use ‘tangah duo’, tangah tigo’ or ‘tangah ompek’ to refer to ‘one and a half’, ‘two and a half’, and ‘three and a half’ respectively. Meanwhile, the younger ones use ‘satu satangah’, ‘dua satangah’, and ‘tigo satangah’ correspondingly. People in nagari (village) will consider someone who speaks different words of Sumpur Kudus dialect as ‘nondong’ (show off) and ‘langguak’ (arrogant). This circumstance will be understood clearlly when we relate the language with prestige. It is obviously seen that the reasons of the poeple to judge some members of society who choose such an influential word in a native-native-communication as arrogant since they feel that the language dominate them. The further explanation about this issue will be discussed in the ‘language and prestige’ part of this essay. Urbanization effects on kinship termsUrbanization also influences the way people in Sumpur Kudus call their relatives (kinship terms). The terms ‘Tuo’, ‘Ongah’, ‘Udo’ and ‘Oncu’ which were used commonly to call the eldest, the middle, the third, and the youngest respectively have been rarely used and changed to ‘kakak’ (to call older sister) and ‘abang’ (to older brother). In some cases, even the kinship term ‘mamak’ (which simply means uncle, but in Minangkabau sense it reflects higher position of mother’s brothers), has been changed also to be ‘oom’, which is generally accepted as the standard Bahasa Indonesia. Furthermore, there is a range variety of the way people call their parents. Before the 1950’s , the natives used to call their parents by ‘amak’ (for mother) and ‘apak’ or ‘abak’ (for father). As stated above, at the time, the migration of Sumpur Kudus people to other regions remained rare due to difficult access to go ‘outside’ the area. But, after the modern transportation modes find their way to Sumpur Kudus, the mobility of the poeple as well as intensity of contact with another people are increasing. Apart from its positive impacts toward the life of the people, it also influences the kinship terms they use for calling their parents. Since then, the kinship terms used by Sumpur Kudus remains various such as ‘Ibu, ‘(M)ama’,and ‘Bunda’ (for mother), whereas ‘(p)apa’, ‘aba’,and ‘Ayah’ are widely used to call father. In addition, the same story happens to kinship terms used for grandparents. To call their grandmother, one would use ‘uwo’ or ‘inyiak’, whereas the terms ‘pakntuo’ was used to refer to a grandfather. But, nowadays such terms have been left since people find other terms which are considered ‘more modern’ like ‘nenek’ for the former and ‘kakek’ for the latter. Besides, some people use ‘atu(a)k’ to call their grandfather. It is likely the term ‘atu(a)k’ was derived from Riau Malay ‘datuk’ . Migration and Malay influences Malaysia is the most popular destination of rantau area for Sumpur Kudus youths. Since 1970’s, many youths has made their way to Malaysia to find a job. They come to Malaysia as illegal or legal workers who work in some kilang (company) in the neighboring country, and live for years. To adapt with their working environment, the workers adjust the language they use in their daily life. Some new terms they never knew before (especially technical terms used in company they work and terms for technology devices) add to their vocabularies. When coming back to Sumpur Kudus, they still use such terms to communicate with other poeple. As consequence, Malay also gives influence towards the language (at the lexical level) in Sumpur Kudus. The following instances illustrate the words choices intentionally or unintentionally used by Sumpur Kudus youths who once worked in Malaysia. Malay Indonesian Meaning Helmet Helm Helmet IC (they pronounce ‘esi’) KTP Identity Card/IC (ai si) Baki Pulsa Credit Len Sinyal/jaringan Network/signal Mesej SMS Message(SMS) Polis Polisi Police Snoke(r) Bilyar Billiard Kumpulan Grup band Band Baya Kabel Wire Moto Motor Motorbike Kereta Mobil Car Bisikal Sepeda Bicycle Leto Korek api Matches Swite Sweater Sweater Ekon AC (ase) AC Bas Bus Bus Megi Mie Noodle Cakap Bicara Speak Awak Kamu You Hal Masalah Matter Hun Sentimeter Centimeter Repot Lapor Report Hewe Tol High way Jem Macet Jam/congestion Lesen SIM License Fotostek fotocopy Photocopy Bus stop halte Bus stop Bandar raya pamong Civil service RELA hansip Security force Cikgu guru Teacher Sekuriti satpam Security Orijinal Asli Original Melabur Investor Investor Beza beda Distinct/different Dicaba(r) Ditantang Is being challenged Table 2. Some new words brought and spoken by workers who once worked as illegal workforce in Malaysia (The data above are based on phone interview with Rinaldi, 22, a brother of Indonesian worker in Malaysia, on June 19th 2009). The words listed above are used nowadays in daily conversations by the ex-workers in Sumpur Kudus. Besides that, due to the high intensity of using such words, they also make a space among people who have ever communicated with the ex-workers. What I am trying to say is that the ex-workers influence the poeple in their circle, especially those who have no contact with oustiders (most of them are the old generations). In the case of the workers, language change occurs because of some reasons. Firstly, before going to Malaysia to be labors, they did not know such a technical terms used in Bahasa Indonesia to call some technological devices such as handpohone facilities since in Sumpur Kudus they did not have any. After they come back to Sumpur Kudus, they teach their relatives to call such terms as they do. For example, a man was just back home, and gave a new handphone to his sister (who never had any). He tild his sister that inside the cellphone there is a card which has to be charged with some ‘baki’ (credit) in order to be connected. The sister then will remember the term ‘baki’ to call credit and will use it afterwards. Secondly, the use of Malay due to their asumptions that the language has a higher prestige than Bahasa Indonesia.The latter issue will be discussed further in ‘language and prestige’ part below. Language choice and prestigeWardaugh (1996) points out that ‘speakers usually feel that languages are generally better than dialects in some sense. Language, therefore has a signicant correlation with prestige, which means that a language used by certain speech community is not only simpy used for communication, but also to show their prestige. Prestige, as proposed by Milroy (2007) is a property of speakers, or groups of speakers, some of whom are occured higher social prestige than others, and this is very clearly related to varying social class or status (p.137). In the level of word, it seems clear that the use of some terms is aimed to show someone’s consideration about that language. The motivation to use certain terms of a language instead of using terms in native local dialect shows that the speakers feel that the language has a better prestige compared to their own dialect. To talk further, since the language has a better prestige, the use of certain words to replace the words in their dialect implies their reason to indirectly show their class. Thus, as Milroy goes on,prestige is conferred on language varieties by speakers, and speakers tend to confer prestige on usages that are considered to be those of the higher social classes (137). This thesis can be taken as a good explanation of the case of Sumpur Kudus people who prefer to use ‘standard’ Minangkabau words rather than Sumpur Kudus dialect as well as to the ex-workers who still use some Malay terms to call certain things. However, it is also important to note that people in Sumpur Kudus make such an unwritten rule concerning the use of the kinship terms above. Economic status undeniably plays a great role in determining whether someone (parent) ‘deserves’ to teach his/her children in order to call them or their grandparents with the new terms stated above. An upper and middle class society has a freedom to choose which term they want to use. In the other hand, the lower class one should use the old-version terms. Otherwise, the people in kampong will look down at them or even mock them as if they want to say ‘you poor ought not to use such term, only we the rich who deserve to use them’. This circumstance then makes the lower class families realize that they should indeed use the old version terms. Nonetheless, as their economic status increase, a member of the family (a daughter who has married for instance) will automatically adjust the terms she teaches to her kids). The following examples are changing of words choice in Sumpur Kudus dialect because of urbanization: Old dialect word New dialect word Meaning Tenggen Stres Stress Owun Harum Smell good Babiak Basah Wet Osan Basi Expired Ibuik Angin Wind Batu jam Batrai jam Battery Baju dingin Jeket Jacket Pakansi Libur Holiday Limpope Kupu-kupu Butterfly Indo Pelangi Rainbow Jantan Cowok Boy Tino Cewek Girl (A)gak kajantan-jantanan Tomboi Tomboy (A)gak katino-tinoan Banci/bencong AC/DC, She-male Kaluagh main Istirahat Break time Main reket Bulu tangkis/badminton Badminton Dasun Bawang putiah Garlic Minyak manih Minyak goreng Cooking oil Maisok Marokok To smoke Lapiak simoyang Sajadah Praying mat Lobuah Jalan Road/street Lawuak Ikan Fish Kowa Kopi Coffee Baintaian Bapacar Dating Suduak Pangkugh Hoe Mandobi Manggosok/manstrika To iron Salabeta Sapu tangan Handkerchieft Oso Ciek/ Satu One Tingkok Pintu madan/Jendela Window Kapa tobang Pesawat Airplane Elok-elok yo! Hati-hati yo! Take care Balai Pasa Market Kanti Kawan/konco Companion Kotuk-kotuk Tontong A tool made of bamboo used for announcing some information in nagari Main bol Main bola/bola kaki Soccer Kalimumu Ketombe Dandruff Bubugh samba Lontong Over cooked rice Ago Bola Ball Dangau Uma House Ka mano Ka ma Where Apo Aa What Siapo Sia Who Ba’po Ba’a How Dek apo Dek a Why Table 3. Comparison of old and new version of Sumpur Kudus dialect. Thus, to conclude, language choice has a close correlation with language prestige. Nonetheless, the process is not that simple. At the first level, mobility of a group of speakers to another place will influence the brought-along language, mainly in terms of words choice. As they get contact with other people from various places, the immigrants find many new words to add to their vocabularies. When they are back to their natal village, they bring the influences along with them. The people know how to call such things in their language (or dialect), but they prefer to choose terms in one language they ever contacted with. In the case of Sumpur Kudus students and workers, their language has been influenced by a standard Minangkabau and Bahasa Indonesia (for the domestic-base ones) and Malay (for those who worked in Malaysia). The urbanization and migration do not only influence the way they speak (in terms of words choice), but also the way they call their kins. The changes in kinship terms and new variations of word brought into Sumpur Kudus dialect occur because of the people consider their dialect as inferior, whist respect another language as superior (has a better prestige). Economic status also determine someone’s authority to use such new words changes. References:Aikenvald (2002). Multilingualism and language choice. pp.102-126. (In sociolinguistics reading materials) Auer, Peter (2005) Mobility, Contact and Accomodation. In Llmas, C., L. Mullany & P. Stockwell. (2007), pp.109-115 Milroy, James (2007)The ideology of the standard language. In Llamas, C., L. Mullany & P. Stockwell. (2007), pp.133-139. Wardaugh, R. (1996). An Introduction to Sociolinguistics. London, UK: Blackwell Publisher | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Triyanto Triwikromo |
Kekuatan Narasi "Ular di Mangkuk Nabi"
Dalam catatan pembuka untuk Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2002, Arief Budiman memuji Triyanto Triwikromo sebagai ‘nama baru yang bersinar di dunia cerpen”. Pernyataan tersebut tampaknya tak berlebihan, dan menemukan ‘momentum pembuktian’ setelah kemudian sang cerpenis melahirkan puluhan cerpen yang mampu ‘memperkaya’ lautan kepengarangan Indonesia.
Nama Triyanto Triwkromo, dewasa ini, agaknya telah menjadi semacam keharusan ketika seseorang membicarakan tentang perkembangan sastra kontemporer Tanah Air. Triyanto, di antara sekian banyak penulis prosa muda akhir-akhir ini, memang tampak menonjol dengan cerita-ceria penuh suspens, intrik, dan konflik yang diolah dengan gaya bahasa yang ‘khas’. ‘Kekhasan’ gaya bercerita Triyanto tersebut terlihat di sejumlah kumpulan cerpennya yang telah terbit sejauh ini seperti Sayap Anjing (2003), Anak-anak Mengasah Pisau (2003), Malam Sepasang Lampion (2004), dan yang teranyar, Ular di Mangkuk Nabi (2009).
Narasi yang kuat
Setidaknya ada dua hal yang bias dijadikan tolok ukur keberhasilan sebuah cerita: pertama, ide yang digarap; dan kedua, cara penyampaian cerita. Meski tak menafikan keunggulan tema (isi cerita) yang coba diusung dalam cerpen-cerpennya, Triyanto tampaknya memang lebih memukau dalam segi penyampaian isi cerita. Bentuk (form) menjadi hal yang sangat tak bisa untuk tidak diperhatuikan ketika membaca cerpen-cerpen Triyanto.
Kekuatan cara bercerita cerpenis kelahiran Salatiga ini terletak pada pilihan kata-kata (diksi) ‘ganjil’ yang diramu ke dalam bentuk (pen)cerita(an) yang rumit dan kompleks. Inti cerita, dengan demikian, terbangun melalui gaya bahasa yang ‘liar’ dan, pada beberapa bagian, terlihat ‘absurd’.
Cerita yang dihadirkan Triyanto dalam cerpen-cerpen yang terhimpun dalam kumpulan ini sebenarnya juga berkisar pada drama kehidupan manusia sehari-hari. Namun, yang membuatnya ‘berjarak’ dari realitas adalah format bercerita dan kata-kata yang menyusu cerita tersebut, seperti misalnya “Paris adalah neraka. Iblis manis akan membunuhmu jika kau bermimpi tinggal di kota brengsek itu” (dalam Iblis Paris). Atau “Di Paris, kau tahu, hanya ada iblis yang tergesa-gesa mengetuk pintu dan menusukkan pistol di lambungku yang ringkih tanpa kendhit pengaman” (Idem). Perumpamaan-perumpamaan ‘aneh’ yang dihadirkan Triyanto dalam ceritanya menjadi kekuatan yang ikut menyeret emosi pembaca ke dunia imajiner yang ia ciptakan.
Selain itu, titik keunggulan cerpen-cerpen Triyanto juga terletak pada bagaimana suspens dihadirkan melalui jalinan plot yang juga rumir, sehingga cerita todak berjalan datar dan membosankan. Plot, dalam cerita yang mengandalkan form seperti kebanyakan cerita Triyanto, memang memang harus mampu menciptakan ‘kejutan’ lain bagi pembaca. Penyusuan plot yang gagal tentu akan membuat cerita menjadi ‘basi’ dan bertele-tele.
Seperti kebanyakan kumpulan cerpen dewasa ini, cerpen-cerpen Triyanto yang terhimpun dalam kumpulan ini sebelumnya juga telah pernah dimuat di berbagai media massa seperti Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, dan lain-lain. Kata pengantar dan penutup masing-masing ditulis oleh Goenawan Muhammad dan Budi Darma. (relah dimuat di Padang Ekspres)
 | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Nukila Amal, Agus Noor, dkk |
Mencicipi Cita Rasa ‘Smokol’
Buku kumpulan cerpen Kompas pilihan, yang terbit setiap tahun (kecuali 1998) sejak 1992, memang sudah mendapatkan tempat ‘tersendiri’ dalam khasanah sastra – khususnya genre cerpen – tanah air. Kehadiran buku kumpulan cerpen terbaik ini selalu ditunggu-tunggu oleh penikmat sastra Indonesia. Tahun ini, buku kumpulan cerpen Kompas tersebut kembali hadir dengan judul ‘Smokol’.
Tradisi pemilihan sehimpun cerpen terbaik yang pernah dimuat di edisi Minggu Kompas ini pada awalnya hanya melibatkan ‘orang dalam’ di lingkaran Kompas saja. ‘Orang luar’ biasanya hanya diminta oleh Kompas untuk memberikan kritik dan apresiasi ketika tim juri telah selesai menyeleksi beberapa cerpen untuk dijadikan buku. Namun, semenjak tahun 2006, proses pemilihan tersebut oleh pihak Kompas sendiri dirubah, yakni dengan mengundang pihak luar untuk menjadi juri , yang sekaligus akan memberikan tinjauan terhadap cerpen terbaik Kompas hasil pilihan mereka. Jika pada tahun 2006 Kompas mempercayai proses penjurian kepada Nirwan Dewanto dan Bambang Sugiharto ( yang memilih ‘Ripin’, cerpen Ugoran Prasad sebagai Cerpen Kompas Pilihan 2005-2006); dan pada tahun berikutnya menunjuk Sapardi Djoko Damono dan Ayu Utami (yang memenangkan cerpen Seno Gumira Ajidarma ‘Cinta Perahu Cadik’), maka pada tahun 2008, proses penjurian cerita pendek Kompas terbaik diserahkan kepada duet Rocky Gerung (pengajar filsafat UI) dan Linda Christanty (penulis kumpulan cerpen peraih Khatulistiwa Literary Award ‘Kuda Terbang Maria Pinto). Rocky Gerung dan Linda sepakat memilih cerpen Nukila Amal ‘Smokol’ sebagai cerpen Kompas terbaik untuk tahun 2008.
Mencicipi ‘Smokol’
‘Smokol’ bercerita tentang Batara (alias Batre) dan teman-temannya yang tergabung dalam kelompensmokol (kelompok penikmat smokol). Smokol sendiri adalah makan tanggung antara makan pagi dan makan siang. Dalam cerpen tersebut diceritakan bahwa Batara sangat gemar menyelenggarakan pesta ‘smokol’, dengan menyajikan makanan aneka rupa, warna dan rasa. Ketika pesta smokol berlangsung, Batara akan sangat sibuk memasak dan mendekorasi meja makan demi kepuasaan para undangan, yag tak lain adalah teman-temannya sendiri.
Ketika ‘mencicipi ‘Smokol’ Nukila Amal untuk kali pertama, saya memang merasa ada ‘kekuatan aneh’ yang tersimpan dalam pilihan tema dan kata-kata . Untuk urusan yang terakhir, kemampuan Nukila memang sudah teruji ketika novel pertamanya ‘Cala Ibi’ terbit. Jika dalam Cala Ibi Nukila menyeret imajinasi pembaca ke alam ‘ganjil’ yang ia ciptakan, maka dalam ‘Smokol’, dunia imajiner yang dihadirkannya terlihat lebih ‘kalem’, ‘riil’, dan ‘membumi’. Artinya, baik tokoh-tokoh dan percakapan yang terjadi di antara mereka tampak lebih ‘mengena’ dan ‘tajam’. Persoalan yang diangkat, meskipun dikiaskan dengan kegiatan makan tanggung tersebut, mampu hadir sebagai persoalan universal, yang bisa ‘diseret’ ke konteks yang berbeda. Human interests yang terdapat dalam cerpen ini pun tampil ‘apa adanya’, tanpa paksaan.
Selain Nukila, penulis yang karyanya masuk dalam kumpulan cerpen Kompas 2008 ini adalah Agus Noor, Anton Septian, Ayu Utami, Beni Setia, Damhuri Muhammad, Fransisca Dewi Ria Utari, Martin Aleida, Ni Komang Ariani, Puthut EA, Ratih Kumala, S Prasetyo Utomo, Triyanto Triwikromo, dan Ugoran Prasad. Masing-masing penulis tersebut hadir dengan satu cerpen, kecuali Triyanto Triwikromo yang mampu ‘meloloskan’ dua cerpennya (‘Iblis Paris’ dan ‘Dalam Hujan Hijaiu Friedenau’).
Kurang
Dibandingkan dua kumpulan cerpen Kompas sebelumnya, khususnya mengenai catatan pengantar dan penutup yang ditulis oleh kedua dewan juri sebagai semacam ‘laporan pertanggung jawaban penjurian’, buku ini terasa ‘kurang’. Catatan pengantar yang diberikan oleh Rocky Gerung, yang walaupun kritis dan ‘tajam’, hanya memfokuskan pembahasannya pada satu cerpen saja, yakni ‘Smokol’ sebagai cerpen terbaik. Tak ada sedikitpun Rocky menyinggung atau memberikan pernyataan mengapa cerpen-cerpen lain terpilih untuk diikutsertakan dalam buku tersebut.
Epilog yang ditulis oleh Linda pun tak banyak menolong. Meski Linda tampak berusaha bersikap adil, dengan memberikan ulasan (super) singkat terhadap beberapa cerpen, namun tetap saja pembahasannya terasa kurang dalam dan hanya sepintas lalu. Nama Fransisca Dewi Ria Utari sebagai penulis cerpen ‘Merah Pekat’ malah oleh Linda ditulis sebagai Intan Paramaditha.
Untuk pemilihan cerpen terbaik berikutnya pihak Kompas diharapkan mampu memilih dewan juri yang memang betul-betul berkompeten dan bisa mempertanggung jawabkan pilihannya. Karena, bagaimanapun, catatan pembuka dan penutup dari dewan juri yang disertakan dalam kumpulan tersebut merupakan poin penting yang menjadi nilai tambah ketika seseorang memutuskan untuk membeli buku kumpulan cerpen Kompas setiap tahunnya. Kalau hanya sekadar cerpen, tentu sudah pernah terbit dan dibaca di Kompas.
  | Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Anindita S. Thayf |
Tanah Tabu : Eksplorasi Naratif yang Berani
“Diujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah”. Demikianlah bunyi petikan isi cerita yang ditampilkan pada sampul depan novel pemenang I Sayembara Novel DKJ 2008 ini. Petikan tersebut tampaknya bisa menggambarkan semangat ‘pemberontakan’ dan ‘perlawanan’ yang dihadirkan dalam plot cerita. Melawan kesemena-menaan
Karya fiksi setebal 240 halaman yang ditulis oleh Anindita S. Thayf ini bercerita tentang getirnya kehidupan yang harus dijalani oleh Anabel dan keluarganya akibat kesemena-menaan pihak tertentu yang hanya memikirkan keuntungan pribadi belaka. Berlatar tempat di Papua, novel ini seolah mengajak kita menyelami kesedihan terdalam dan ketidakadilan yang diterima oleh saudara kita yang kurang beruntung di pulau kepala burung tersebut. Musibah yang diterima keluarga Anabel menjadi amsal betapa diskriminasi ‘ras’ masih tetap terjadi di negeri bersemboyan ‘walaupun berbeda-beda tapi tetap satu’ ini.
Anabel adalah sosok seorang perempuan pemberontak, yang tak bisa tinggal diam untuk membela kepentingan kaum yang terpinggrikan seperti dirinya. Anabel berasal dari keluarga miskin di pedalaman Papua. Ia menikah pada usia yang sangat muda, seperti perempuan di desa pada umumnya. Pahit getir dan asam manis kehidupan sudah dialami oleh Anabel. Di antara perempuan di kampung, Anabel muncul sebagai seorang yang ‘beda’. Ia keras dan tegas, serta suka memberontak. Kebiasaan memberontak itu pula yang kemudian membawa Anabal ke dalam berbagai persoalan. Beberapa tindak kesemena-menaan yang dilakukan oleh kelompok tertentu terhadap kaum marjinal juga dihadirkan Anindita dalam novel ini. Bagaimana kejamnya para tentara yang bertugas di penjara-penjara Papua ; pemerkosaan yang mereka lakukan terhadap menantu Anabel; serta bagaimana penyiksaan berlapis yang diberikan kepada mereka yang melawan, tergambar dengan jelas. Proyek tambang emas di Papua yang tidak membawa dampak berarti bagi kehidupan masyarakat asli juga diperlihatkan oleh Anindita.
Eksplorasi naratif yang berani
Anindita menuturkan kisah dalam novel ini dengan mengambil tiga narator berbeda, yakni Pum, Kwee, dan Aku (Leksi). Meski demikian, yang menjadi sentral dari keseluruhan cerita tetaplah Anabel, sang tokoh utama. Masing-masing narator dihadirkan secara bergantian oleh Anindita untuk memberikan penilaian dan pandangan terhadap Anabel. Cerita, dengan demikian, mengalir dari sudut pandang yang variatif sehingga tidak terjebak dalam format cerita panjang yang membosankan.
Selain itu, teknik bercerita seperti ini pun menghindari tokoh utama dari proses pendewaan, di mana sebagai protagonis ia hadir sebagai orang yang serba baik dan mulia. Dengan memakai beberapa sudut pandang narator, narasi serta deskripsi tentang tokoh utama pun menjadi lebih beragam dan ‘fair’. Tokoh-tokoh dalam cerita juga tidak hadir dalam bentuk hitam-putih. Teknik bercerita yang dipakai Anindita dalam novel ini memang bukan ‘barang baru’, sebab teknik seperti ini sudah pernah juga dicoba oleh beberapa penulis lain, seperti misalnya dalam novel Saman (Pemenang I Sayembara Novel DKJ 1998) dan Larung karya Ayu Utami ataupun dalam Dadaisme (Pemenang I Sayembara Novel DKJ 2003) yang ditulis oleh Dewi Sartika. Yang membuat Tanah Tabu istimewa adalah karena kekuatan narasi yang tersusun dalam kata-kata dan kalimat yang sederhana. Berbeda dengan dua novel Ayu Utami maupun Dewi Sartika, Tanah Tabu mendedahkan kisah dengan bahasa yang lugas, sederhana tanpa bunga-bunga kata yang njelimet dan rumit.
Perpindahan sudut pandang cerita dari satu tokoh ke tokoh yang lain sebenarnya cukup berisiko terhadap kekuatan inti cerita. Namun, Anindita sepertinya mampu menyeimbangkan teknik komposisi tersebut dengan eksplorasi bahasa yang bagus, lugas dan masuk akal. Perpindahan sudut penceritaan dari tokoh Kwee (yang dewasa) ke tokoh Aku (Leksi, yang masih anak-anak), misalnya, terlihat cukup ‘wajar’. Artinya, gaya bahasa dan pilihan kata-kata yang ditampilkan Anindita pada masing-masing bagian penceritaan (dengan narator yang berbeda) bisa mewakili karakter para tokoh. Tokoh yang dewasa tampil dewasa, tokoh anak-anak pun tampil sebagai anak-anak.
Buku ini sangat patut untuk dibaca, tidak hanya karena teknik penceritaaannya yang bagus, namun juga karena nilai-nila kemanusiaan yang diusung di dalamnya sungguh sangat bisa untuk dijadikan bahan renungan bagi kita bersama.
 Apa yang bisa kutulis tentang sehelai daun yang jatuh pada awal Juli ini selain desir angin yang melambat, memusing, memutarnya hingga jatuh rebah pada tanah?
Ini bukan puisi. Ini adalah sebuah momen puitis yang hadir begitu saja. Saya serta merta teringat akan seseorang yang juga sering membikin puisi-puisi lahir...Adakah pada saat yang sama ia juga melihat sehelai daun jatuh dibelai angin, dan juga serta merta teringat pada saya?
Ah, betapa kadang saya terlalu naif untuk sekadar mencintai....
| Category: | Books | | Genre: | Literature & Fiction | | Author: | Jumpha Lahiri |
Kalo jempol ada lima, saya akan mengacungkannya langsung pada Jumpha Lahiri. Kumpulan cerpen ''Interpreter of Maladies' (Penerjemah Luka, yang mendaptkan Pulitzer Prize) ini memang sangat bagus, baik dari segi gaya penceritaan maupun tema yang dibicarakan di masing-masing cerita. Meskipun tema yang diangkat umumnya berkisar pada kehidupan orang-orang India (yang sebagian besar sudah tercerabut dari akar budayanya), namun pesan akhir dari cerita ini jauh malampaui batas benua. Sebagai buku kumpulan cerpen yang bagus, kisah-kisah yang ditulis Jumpha mampu membawa kita pada satu 'anggukan universal' tentang beberapa hal kecil yang mungkin saja luput dari pantauan sehari-hari.
Jumpha terlihat lincah dalam mendedahkan plot, sehinga cerita terjalin dengan baik mulai dari awal hinga ending. Cerpen-cerpen dalam kumpulan ini dibuka dengan kalimat-kalimat yang memesona dan diakhiri dengan ending yang menyentak. Selain itu, Jumpha pun tampaknya hadir sebagai penulis cerpen yang sangat jeli terhadap detail suasana; pendeskripsian latar yang sungguh hidup; serta logika cerita yang memang masuk akal menjadi poin lain yang patut dikagumi dari sosok penulis ini.
Beberapa kisah yang terhimpun dalam buku ini antara lain 'Durwan Sejati' (tentang kegetiran hidup yang harus dijalani oleh seorang perempuan 'homeless' korban politik perpecahan India-Pakistan di sebuah flat 'bising'); "Masalah Sementara" (tentang sepasang suami-istri muda yang membuka rahasia masing-masing ketika mati lampu); 'Penerjemah Luka" (tentang 'affair in mind' seorang sopir taksi-cum penerjemah dengan seorang perempuan India yang memendam luka karena berkhianat pada suaminya); "Pengobatan Bibi Haldar (tentang perempuan 'penyakitan' yang berusaha mencari pendamping hidup sebagai obat) dll. Dari sembilan cerita yang ada, saya terpikat oleh 'Masalah Sementara', sebuah cerita yang 'enak' dan 'penuh kejutan'.
Saya memang agak terlambat membaca buku kumpulan cerpen ini. Tapi, bagi sesuatu yang 'indah' dan 'seksi' seperti buku ini, rasanya kata terlambat tak berarti apa-apa. Kenikmatan itu tetap saja akan terasa sampai kapanpun! | Category: | Movies | | Genre: | Education |
"Apa salahnya kalau aku perempuan?" ujar Annisa (Revalina S. Temat) memprotes Ayahnya ketika ia tak diizinkan untuk melanjutkan sekolah ke Yogyakarta, sementara dua dua orang kakaknya (laki-laki) justru disekolahkan jauh-jauh hingga ke Mesir. Demikian cuplikan kisah film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Abidah el Khaliqy ini. Berlatar belakang pesantren shalafiyah Al Huda di Jawa Timur, film ini seolah ingin menyentak kesadaran kita semua tentang ketidakadilan gender yang masih terus berlangsung hingga hari ini. Bahwa di balik tembok patriarki, kaum perempuan dikungkung untuk terus patuh dan manut tanpa boleh melakukan hal-hal yang berbau 'memberontak', bahkan hak untuk mendapatkan akses untuk pendidikan sekalipun (yang dalam kitab suci al Quran dianjurkan untuk semua umat) juga dibatasi bagi mereka. Film yang cukup layak diacungi jempol. (to be continued) Suatu Malam di Sudut Kota Tua
gelap menyungkup kota hilang cahaya entah ke mana tak ada siapa-siapa Cerpen: Afri MeldamJanuari lembab. Dedaun kuyup terbasuh rinai yang tak kunjung usai sejak tadi malam. Kesiur angin membawa gigil yang menajam. Hindun menyusupkan telapak tangannya lebih rapat ke saku baju hangat rajutan yang membungkus tubuh kurusnya sembari terus melangkah di sepanjang jalan setapak yang becek menuju rumahnya. Kabut pagi masih berpendar di antara rumpun bambu talang yang tumbuh subur di pinggiran sungai Batang Kangan.Kalau bukan karena mengantar Lani, putrinya yang baru duduk di bangku kelas satu SD, itu ke sekolah, Hindun – seperti kebanyakan penduduk kampung – tentu tak akan berani ke luar di tengah cuaca dingin seperti ini. Terlebih rintik gerimis, yang walaupun hanya tinggal satu-satu, diyakini Hindun bisa mendatangkan penyakit dengan tiba-tiba. Terengah di ujung jalan setapak yang berbatu dan sedikit menanjak, Hindun tiba-tiba merasa pusing. Jarum-jarum kecil – puluhan entah ratusan – seolah berjujuh menyuntik kepalanya. Sementara itu, dirasakannya pula seperti ada sesuatu yang menggeliat dalam perutnya. Hindun mual. Perutnya seakan menyesak naik dan dalam beberapa tarikan napas, ia muntah-muntah. Ini bukan kali pertamanya Hindun merasakan mual seperti itu. Seingatnya, sudah tiga kali ia merasakan pusing tiba-tiba untuk kemudian mual dan berakhir dengan muntah-muntah. Pernah suatu kali Mak memergokinya tengah muntah-muntah di sumur. Mak tentu menaruh curiga dan menanyakan apa yang terjadi pada Hindun. Tapi, waktu itu Hindun tak menjawab. Ia tak menghiraukan Mak dan langsung masuk ke kamarnya, seolah dengan demikian ia bisa menghindari kenyataan yang tengah ia hadapi. Apakah aku hamil? Tidak! Aku tak boleh hamil! Tak boleh! Jerit Hindun dalam hati sembari mengusap perutnya, mencoba merasakan kalau-kalau ada sesuatu yang sedang tumbuh di dalam sana. Dan, memang. Ada yang berubah dalam beberapa bulan belakangan ini. Sebagai perempuan yang telah melahirkan lima orang anak, Mak tentu paham dengan perubahan itu. Dan Hindun pun sebenarnya tahu belaka kalau sudah lebih dari dua bulan ia tak datang bulan. Tapi, selama ini ia berharap itu hanya keterlambatan biasa, dan mencoba meyakinkan dirinya kalau ia tak sedang berisi. Meski, sejak tidur dengan Sutan di ladang dulu Hindun sudah sangat mencemaskan kalau kenyataan ini akan segera datang. Berdiri gemetar di bawah pohon nangka di ujung jalan setapak itu, Hindun ingin saja menangis dan meronta-ronta menyesali dirinya yang telah berbadan dua. Ya, siapa yang tak akan melaknatnya begitu mengetahui kalau Hindun, janda yang ditinggal pergi suaminya dua tahun lalu tiba-tiba hamil? Siapa yang tak akan mengeluarkan serapah? Ia bisa saja berkilah kepada Mak kalau ia hanya mual biasa. Namun, seiring hari, jabang bayi yang dikandungnya tentu akan bertambah besar dan apa lagi alasan yang bisa ia berikan pada Mak dan orang-orang kampung tentang perutnya yang kian buncit? Hindun menghela napas panjang. Tak ada penyebab lain kenapa sepagi ini ia kembali merasakan pusing dan muntah-muntah. Ia telah berbadan dua! Hindun yakin, karena dulu waktu mengandung Lani ia juga merasakan hal yang sama. Menyadari hal itu, Hindun gemetar takut memikirkan apa yang akan menimpanya nanti kalau perutnya kian membesar. Orang-orang tentu akan membenarkan tindakan pengecut yang diambil oleh suaminya. Hindun berpikir keras. Tak ada jalan lain. Sebelum perutnya kian membesar, ia harus cepat-cepat menemui Sutan dan memintanya untuk segera menikahi Hindun. Bagaimanapun, Sutan harus ikut menanggung aib ini, pikir Hindun, karena ialah bapak dari jabang bayi yang ia kandung. Sutan harus mengambil sikap! Hindun bangkit. Pusingnya sudah mulai reda. Gerimis masih menetes dari langit. Dengan sehelai daun pisang, Hindun bergegas mencapai ujung jalan setapak. Tiba di persimpangan, bukannya berjalan ke kanan menuju rumahnya, Hindun berbelok ke arah lain, menyusuri jalan di tepian sungai, menuju ke ujung kampung, ke ladang Sutan. Hindun tahu belaka keseharian Sutan. Meski hujan seperti sekarang, laki-laki itu tetap akan pergi ke ladang. Kalau bukan membersihkan jalan kecil di antara pohon-pohon karet, laki-laki itu pasti akan menyiangi semak di sela-sela pohon kulit manis yang ada di pinggang ladang. Hindun tahu pasti akan hal itu karena ladangnya berbatasan langsung dengan ladang Sutan. Jalan setapak menuju ladang di hulu Batang Kangan masih lengang. Hindun hanya menjumpai beberapa pasang jejak di jalan tanah yang masih basah. Ya, sepagi ini, di musim penghujan, memang orang-orang lebih suka bermalas-malasan di rumah atau bercengkrama di lepau kopi. Tak banyak yang akan tetap ke ladang. Dan, Sutan aalah satu di antara penduduk kampung yang diketahui Hindun tetap pergi ke ladang meski cuaca buruk seperti sekarang. Meski laki-laki itu berangkat sedikit lebih telat dari rumahnya dibanding hari-hari biasa. Karena ladang mereka berdekatan, Hindun sering mendapati Sutan sudah mulai menyadap beberapa batang pohon karet ketika ia baru sampai di sana. Bahkan, ketika musim hujan sekalipun, Sutan tetap lebih dulu tiba di ladang daripada Hindun. Laki-laki itu memang tak seperti orang kebanyakan. Ia tak menunggu pohon-pohon karet mengering untuk pergi ke ladang. Meski semalam hujan deras, ia tetap akan berangkat pagi-pagi sekali menuju ladang. Sambil menunggu batang karet mengring, ia akan membersihkan semak yang tumbuh di antara pohon-pohon karet atau menanam bibit cabe, bayam atau karet sebagai penyisip pohon karet yang sudah tua. Hindun mengagumi sosok Sutan sejak pertama kali ia mulai menyadap karet, beberapa bulan semenjak suaminya tak lagi mengirimkan belanja dari rantau. Saat itu, hubungan Hindun dan Sutan hanya sebatas dua orang penyadap karet yang ladangnya berdekatan. Hanya percakapan-percakapan singkat yang tejalin di antara mereka di saat, secara kebetulan, mereka bertemu di pinggiran sungai Batang Kangan untuk istirahat makan siang. Namun, ketika beberapa bulan kemudian Hindun menerima surat cerai dari suaminya, hubungannya dengan Sutan lebih dari sekadar teman bercakap. Kekaguman Hindun kepada Sutan pun berubah menjadi rasa membutuhkan. Sutan pun seolah memahami kondisi Hindun. Mereka jatuh hati satu sama lain. Hindun sejak semula sudah tahu kalau Sutan sudah beristri dan merupakan bapak daru dua orang anak. Tapi, Hindun tak bisa munafik dengan apa yang ia rasakan terhadap laki-laki itu. Ia telah telanjur mencintai Sutan. Hingga ketika pada suatu hari mereka terkepung di ladang dalam hujan yang begitu lebat, Hindun dan Sutan seakan tak bisa menahan diri dari gejolak yang sama-sama menggebu di dada mereka. Di dangau di ladang yang dibuat Sutan, mereka bersentuhan untuk pertama kalinya. Hindun menyadari posisinya, dan berusaha untuk menjauhi Sutan. Namun Sutan berhasil meyakinkan Hindun bahwa ia akan bertanggung jawab pada apa yang telah mereka perbuat. Dan, peristiwa di ladang itu kembali terulang hingga ke sekian kali. Itulah awal dari apa yang kini menimpa Hindun. Episode hitam itu pun kembali terbayang olehnya ketika Hindun hampir mencapai ladang di hulu Batang Kangan. Di pinggir sungai, seperti biasa, Hindun menjumpai jejak kaki yang masih baru. Rupanya Sutan memang sudah ada di ladang. Hindun menapaki bebatuan sungai menuju ke seberang. Dari sana, ia mendengar suara gemerusuk semak yang tengah ditebas. Dan, ketika melewati dangau ladang milik Sutan, Hindun melihat laki-laki itu tengah bekerja dengan serius, sampai tak menyadari kehadiran Hindun di sana. Hindun batuk-batuk kecil. Sedikit terkejut, Sutan menoleh ke arahnya. Seolah mengerti dengan maksud kedatangan Hindun, laki-laki itu berhenti bekerja dan mendekati Hindun. “Uda,…”Hindun membuka percakapan, namun tak tahu harus dimulai dari mana. “Aku hamil!” akhirnya hanya itu kalimat yang meluncur dari mukutnya. Sutan tampak tak terkejut sedikitpun, seakan sudah menduga kalau suatu saat ia akan mendengar kata-kata itu dari mulut Hindun. Ia hanya tersenyum kecil sembari memegang tangan Hindun, lalu mendekapnya. Dikecupnya berkali-kali tangan Hindun, sebelum kemudian ia berucap pelan, “Hindun, kau tentu tahu kalau aku sudah berkeluarga dan…” ia diam sejenak, menatap ke dalam mata Hindun. “aku yakin kau bisa dalam memandang hal ini, Hindun. Bukan aku ingin menghindar dari tanggung jawab. Tapi… kuharap kau bisa mengerti posisiku saat ini. Anakku masih kecil-kecil dan aku pun tak tega menyakiti istriku dengan kenyataan kalau aku telah menghamilimu. Jadi, Hindun, dengan penuh kerendahan hati, aku mau kau rela menggugurkan kandungan itu. Demi kita berdua…” Hindun begitu kaget mendengar jawaban Sutan. “Tidak, Uda! Aku tak akan menggugurkan kandungan ini! Kau harus bertanggung jawab!” beberapa tetes airmata mulai meluncur di pipi cekung Hindun. “Tolonglah mengerti, Hindun…”Sutan merajuk. “Tidak! Kau harus segera menikahiku sebelum anak ini lahir…”Hindun sesenggukan. “Tapi aku…” “Kau harus bertanggung jawab!” tangis Hindun pecah sudah, dan ia memukul-mukul Sutan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia meraung-raung, untuk kemudian berpaling dan berlari menjauh dari Sutan. “Akan kuberitahu semua penduduk kampung kalau kau telah menghamiliku, Sutan! Kau harus ikut menanggung aib ini!”pekiknya. Sutan berusaha mencegat perempuan itu, namun gagal. Hindun, dengan isak tangis yang masih mengguncang, berlari menuju jalan ke arah kampung. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi. Menakut-nakuti Sutan adalah satu-satunya jalan yang bisa ia pikirkan saat itu. “Hindun! Tunggu!” teriak Sutan sembari terus mengejar perempuan itu. Namun, sial bagi Hindun. Ia tergelincir di bebatuan sungai, hingga terjerembab jatuh. Sutan bergegas ke sana. Bukannya menolong Hindun berdiri, Sutan malah meraba pinggangnya dan menarik sebilah pisau dari sana. Hanya pekikan kecil yang kemudian terdengar, untuk kemudian hilang dalam desau hujan yang kian menderas di hulu Batang Kangan. Esoknya, kampung heboh. Sesosok mayat perempuan ditemukan terjepit di antara bebatuan sungai, dengan beberapa luka bekas bacokan di tubuhnya. Sementara itu, seorang laki-laki bernama Sutan dikabarkan hilang sejak kemarin. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Padang, 30 Desember 2007Menutup tahun 2007 Oleh: Afri Meldam Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu dan/atau menggantikan kerja manusia. Dengan adanya berbagai modem teknologi, manusia tak perlu lagi melakukan segala sesuatu secara manual. Namun, apa yang terjadi hari ini akan membuat kita sadar bahwa teknologi tidak lagi sepenuhnya digunakan berdasarkan fungsinya, tapi lebih kepada bagaimana teknologi tersebut membangun citra (image) sang pengguna.Tak bisa dipungkiri bahwa di era postmo sekarang, orang lebih mementingkan citra dibandingkan fungsi. Apa yang tampak di luar (appearance) mendapat perhatian yang cukup besar dibandingkan isi (content). Sebab, apa yang tampak dari luar dipercaya menggambarkan seperti apa isi dalamnya. Meski ada nasihat bijak yang mengatakan ‘jangan nilai buku dari sampulnya’, namun kebanyakan orang hari ini sepertinya memang lebih mengutamakan bentuk sampul (cover) daripada isi buku. Ketika citra berkuasa, segala hal diukur berdasarkan seberapa bagus kesan yang akan ditimbulkan mengenai hal tersebut. Baju yang dipakai, teman bergaul, tempat nongkrong, resto langganan, musik yang digemari, semuanya tidak lagi didasarkan pada aspek kenyamanan, hobi atau kesukaan semata, tapi semuanya harus menimbulkan suatu citra baik seperti yang diinginkan oleh seseorang. Sebab, citra yang terbangun akan menunjukkan ‘siapa siaya’, ‘kelas sosial saya’, dan ‘seberapa banyak uang yang ada di rekening saya’. Teknologi, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, juga tak luput dari pengaruh citra. Apapun modem teknlogi yang digunakan oleh seseorang nyatanya tidak hanya ditujukan pada aspek fungsional semata, tapi juga ditujukan untuk menunjukkan ‘siapa saya’. Asas manfaat yang dulu menjadi pertimbangan pertama ketika seseorang ingin membeli sebuah modem teknlogi, sekarang boleh jadi sudah berada di urutan kesekian. Hal pertama yang harus diperhatikan hanyalah seberapa bagus citra yang akan diberikan oleh teknlogi tersebut kepada si pengguna. Telepon genggam (HP), misalnya. Sesuai namanya, HP tentu pada hakikatnya diciptakan sebagai sarana komunikasi, yang lebih praktis dibandingkan teknlogi komunikasi sebelumnya (seperti telepon rumah). Namun, pada perkembangannya, HP pun kemudian digunakan sebagai alat untuk menunjukkan ‘kelas sosial’ seseorang. Semakin mahal dan canggih HP yang digunakan, tentu akan semakin ‘wah’ kesan yang ditimbulkan. Apakah si pengguna nyaman dan paham dengan semua aplikasi yang ada di dalamnya tentu tidak lagi menjadi bahan pertimbangan. Ketika kuasa citra sudah membelenggu, bukan tak mungkin jika ada pemilik sebuah HP yang supercanggih dan dibelli dengan harga selangit tidak bisa mengoptimalkan semua fungsi fitur yang tersedia. Boleh jadi, sebuah HP yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas terkini hanya digunakan untuk mengirim pesan singkat dan menelpon. Hal serupa juga terjadi pada gadget yang satu ini: laptop. Hari ini, laptop seakan sudah menjadi ‘barang bawaan’ wajib bagi kaum urban, terutama bagi mereka yang ‘mengaku’ sebagai kaum terpelajar (educated). Sebagai seseorang yang terpelajar, penguasaan akan teknlogi tentu sudah merupakan sebuah keniscayaan. Itulah kesan atau citra yang ingin diperlihatkan ketika seseorang menenteng laptop ketika bepergian. Apalagi ketika di beberapa tempat nongkrong disediakan fasilitas Wi-fi gratis. Menyeruput kopi bermerk di sebuah kafe berkelas sambil berselancar di dunia maya tentu akan menimbulkan gengsi tersendiri. Tak peduli apakah yang dilakukan dengan laptop tersebut hanya sekadar membua-buka situs pertemanan seperti facebook atau friendster. Tak peduli juga apakah seseorang tersebut bisanya cuma mengunggah foto-foto pribadi yang narsis untuk dimuat di blog pribadi. Pun, jika seandainya dia hanya bisa mengoperasikan satu atau dua program saja dari puluhan atau mungkin ratusan aplikasi yang disediakan, yang jelas memakai gadget tersebut telah mendongkrak citranya sebagai ‘kaum terpelajar yang modern’ dan tentunya ‘akrab dengan teknologi’. Dua contoh di atas setidaknya mampu memberikan gambaran betapa hari ini orang-orang disibukkan oleh bagaimana menjaga citra atau imej dirinya dan cenderung abai terhadap kualitas. Daftar kasus penghambaan terhadap citra ini tentu akan semakin panjang jika kita mengambil contoh dari modem teknologi yang lain. Seseorang yang berorientasi pada citra menjadikan teknologi tak lebih hanya sebagai bagian dari gaya hidup. Fungsi bagi mereka tak begitu penting. Citra atau kesan yang ditimbulkan oleh teknologi tersebutlah yang menjadi tujuan utama. Orang yang telah terbelenggu oleh kuasa citra akan selamanya menjadi generasi ‘seolah-olah’. Dilihat dari luar mereka seolah-olah pintar, cerdas, berkelas, namun ketika ditelisik lebih jauh, ternyata tak bisa apa-apa. Mereka tampil seolah-olah paham akan segala hal, namun ternyata kosong melompong. Oleh: Afri MeldamDalam sebuah esai yang membahas tentang pentingnya diadakan forum diskusi sastra di Sumatera Barat, Romi Zarman membeberkan sejumlah nama pengarang mutakhir kelahiran (atau berbasis di) Minang yang karya-karya mereka mulai memenuhi halaman-halaman sastra media lokal dan nasional (Padang Ekspres, 15/02/2009). Tulisan ini tidak ingin membahas lebih lanjut tentang apa yang coba digagas oleh Romi, namun lebih menekankan kepada kenyataan bahwa sedikitnya perempuan pengarang yang ada di Sumbar. Dari daftar nama-nama pengarang yang diklasifikasi dalam esai tersebut, hanya terdapat empat pengarang berjenis kelamin perempuan, yaitu Yetti A.K.A, Fitra Yanti, Reno Wulan Sari dan Nilna S Isna. Apakah kondisi kepenulisan sastra di Sumbar bertolak belakang dengan tesis bombastis yang pernah dilontarkan Sapardi Djoko Damono tentang masa depan sastra Indonesia yang terletak di tangan perempuan (pengarang)? Dominasi laki-lakiTak bisa dipungkiri, peta kepenulisan sastra di Sumatra Barat didominasi oleh (pengarang) laki-laki. Jika ditelisik lebih jauh, sepertinya ini bukanlah kondisi terkini dalam konteks kepenulisan di Sumbar. Melihat sejarah kepenulisan di ranah Minang, kita memang dihadapkan pada kenyataan bahwa pengarang laki-laki memang sudah lama mendominasi. Lihat saja, pengarang-pengarang angkatan Balai Pustaka seperti Abdoel Moeis, Marah Rusli, Agus Salim; yang kemudian disusul oleh Hamka, A.A Navis; dan generesi penulis yang lebih muda seperti Gus tf Sakai, Iyut Fitra, atau angkatan Farizal Sikumbang, Ragdi F Daye, Iggoy el Fitra – sekadar menyebut beberapa – semuanya berjenis kelamin laki-laki. Memang, di antara nama-nama tersebut, ada beberapa pengarang yang berjenis kelamin perempuan. Namun, jika dilihat dari segi jumlah, tetap saja pengarang perempuan lebih sedikit (sangat sedikit!) dibandingkan dengan pengarang laki-laki. Alhasil, perbincangan tentang perempuan Minang dalam karya sastra juga didominasi oleh laki-laki. Pengarang laki-lakilah, dengan demikian, yang mempunyai ‘porsi’ lebih besar dalam menampilkan perempuan Minang melalui karya-karya mereka. Dengan kata lain, kaum patriarkat memegang kendali atas bagaimana perempuan ditampilkan dalam sastra. Padahal, Minangkabau merupakan satu-satunya etnis di Indonesia yang menganut sistem matriarkat (?)! Dilihat dari kacamata feminisme, kondisi ini jelas membawa dampak yang buruk pada bagaimana masyarakat melakukan penilaian terhadap perempuan di Minang. Bagaimanapun fair-nya seorang pengarang laki-laki berusaha untuk menggambarkan tokoh perempuan dalam karya-karya mereka, tetap saja mereka tak akan terlepas dari sudut pandang patriarki yang bias. Hal inilah nampaknya yang membuat para feminis getol menyuarakan para perempuan untuk membongkar narasi-narasi yang menyudutkan mereka melalui tulisan. Alasan yang diberikan cukup masuk akal, bahwa perempuan lebih tahu tentang diri mereka ketimbang laki-laki. Penggambaran laki-laki terhadap tokoh perempuan dalam karya-karya mereka jelas tidak akan pernah bisa mewakli kondisi nyata yang dirasakan oleh perempuan. Sehingga, perjuangan perempuan untuk bisa ‘setara’ dengan laki-laki tak akan pernah tercapai. Meski terlihat ‘aman’ dengan sistem matriarkat, namun dalam banyak hal hak-hak perempuan di Minang masih terhambat. Kiasan adat tentang perempuan Minang sebagai ‘limpapeh rumah gadang’ seolah menjadi pembenaran atas ‘garis hidup’ yang harus dijalani seorang perempuan (baik-baik) yang hanya berkisar pada urusan domestik: dapur-sumur-kasur. Adalah benar bahwa tidak semua pengarang laki-laki yang mendiskreditkan tokoh perempuan dalam karya-karya mereka. Namun, kenyataan bahwa peta kepenulisan (sastra) di Sumbar yang didominasi oleh kaum Adam bisa jadi membawa semacam kekhawatiran akan kondisi di mana identitas perempuan Minang didefiniskan oleh laki-laki. Artinya, pembahasan mengenai perempuan –bagaimanapun objektifnya penggambaran tersebut coba dibuat – tetap saja akan menimbulkan bias jender. Ideologi patriarki yang telah mengakar tentu tak akan bisa dilepaskan begitu saja dari cara pandang pengarang laki-laki ketika menulis tentang perempuan. Oposisi biner antara laki-laki dan perempuan (dimana laki-laki berada di pihak yang menang, dan perempuan sebagai liyan – the other) tetap akan menjadi hal dominan dalam karya-karya yang ditulis oleh pengarang laki-laki. Sebagai salah satu produk budaya, sastra memang bukan dinilai dari segi kuantitas, namun lebih kepada sejauh mana karya tersebut mampu memberikan ‘sesuatu’ kepada para pembacanya. Namun, sekali lagi, dominasi laki-laki dalam peta kepenulisan sastra Sumbar jelas akan menimbulkan efek yang cukup signifikan dalam diskursus feminisme perempuan Minang. Untuk itu, kita mendambakan hadirnya perempuan-perempuan pengarang Minang, yang mampu menyuarakan kondisi nyata yang mereka rasakan. Sastra tentang dan ditulis oleh perempuan Minang tentu akan memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan dengan apa yang selama ini coba ditulis oleh pengarang berjenis kelamin laki-laki tentang mereka. Mari kita ambil beberapa contoh sederhana tentang biasnya penggambaran tokoh perempuan dalam karya-karya kanon yang ditulis laki-laki (asal) Minang. Dalam roman klasik Sitti Nurabaya (Kasih Tak Sampai) misalnya. Meski pada awal cerita Marah Rusli menggambarkan Nurbaya sebagai tokoh perempuan yang terdidik dan berpikiran maju, namun tetap saja Nurbaya ‘ditakdirkan’ menjadi tokoh protagonis yang kalah. Nurbaya menikah dengan Datuk Maringgih, laki-laki yang tidak dicintainya (dengan alasan untuk menyelamatkan orangtuanya dari lilitan hutang); dan mati diracun oleh orang suruhan suaminya. Sitti Nurbaya adalah tokoh yang lemah, yang pada akhirnya ‘harus’ menyerah pada kuasa patriarki. Tokoh Rafiah dalam novel Salah Asuhan (Abdoel Moeis) pun mengalami nasib yang hampir serupa dengan Nurbaya. Ia merupakan tipikal perempuan kampung yang berpendidikan rendah dan pasif. Bagaimana jika seandainya kedua novel di atas ditulis oleh perempuan? Masihkah tokoh-tokoh perempuan dihadirkan sebagai kaum yang kalah? Perempuan tentu mempunyai pandangan tersendiri terhadap kompleksitas peraturan adat dan norma-norma sosial yang berlaku di lingkungan mereka. Hal ini tentu akan sangat berbeda jika dihadirkan dalam karya sastra yang ditulis oleh laki-laki. Pembenaran, pengingkaran, atau pembongkaran atas aturan dan norma-norma tersebut merupakan hal yang sangat mungkin terjadi ketika perempuan menulis tentang diri mereka sendiri. |  | these following pics are taken by a very skillful and experienced photographer. just enjoy it! |
 | Pintu | Jan 19, '09 1:11 PM for everyone |
jarak mungkin saja dimulai di sini sedih keberangkatan dan haru kepulangan
di pintu ada cerita
menunggumu
sehelai daun saja hinggap di sepatumu pagi itu kau tengadah tatap pohon yang telah gugurkannya "ah, kau hijau dulu kuning lalu gugur"
ke sepatu terinjak jadi abu apa saja
sehelai daun hinggap di sepatumu kau tengadah "malam belum datang" Festival Film Indonesia (FFI) 2008 yang digelar Sabtu, 13 Desember 2008 lalu di Bandung, menyisakan bebe rapa catatan. Dengan tema 'Menuju Citra Baru Perfilman Nasional', FFI tahun ini terasa agak berbeda, terutama bagi saya. Kenapa? Pertama, film-film yang diunggulkan dalam FFI 2008 kebanyakan adalah film-film yang belum terlalu jamak diketahui publik. Under The Tree (Garin Nugroho), May (Mouly Surya), Fiksi, dan 3 Doa 3 Cinta - sekadar mengambil beberapa - adalah contoh film-film bioskop yang masih sangat asing bagi kebanyakan orang. Meski sudah pernah membaca ulasan film-film tersebut di beberapa media, tapi saya belum pernah menonton secara langsung. Lantaran film-film tersebut hanya (baru) diputar di jaringan bioskop 21 dan Blitz, maka saya pun yakin saya tak sendiri. Banyak yang juga menyaksikan film-film tersebut. Betul? Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan. Sebenarnya FFI itu milik siapa? Apakah hanya mereka yang mempunyai akses ke jaringan bioskop 21 dan Blitz? Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah-daerah yang belum mempunyai bioskop sekelas jaringan 21 atau Blitz? Hal ini tentu sangat disayangkan sekali. Mengingat pada FFI 2007 yang diselenggarakan di Pekanbaru kemarin, ada sebuah semangat baru yang diusung pihak penyelenggara: mengembalikan film ke masyarakat (Indonesia). Serangkaian acara pendukung seperti nonton bareng film-film yang masuk nominasi, jumpa artis dan diskusi film pun digelar di beberapa kantong budaya di Pekanbaru. Masyarakat pun dengan demikian merasa 'dekat' dengan film-film yang akan 'dipertandingkan' dalam malam puncak penyerahan Piala Citra. Namun, tahun ini 'kedekatan' tersebut sudah tidak terasa lagi. Kedua, film-film yang laris manis di pasaran seperti Ayat-ayat Cinta (AAC) justru tak masuk nominasi Film Cerita Bioskop Terbaik (film ini hanya masuk dalam nominasi aktor pendukung terbaik atas peran Oka Antara). Kenapa? Apakah film ini tak berkualitas? Kenapa juri justru memilih film-film lain untuk diunggulkan sebagai film terbaik? Salah seorang juri FFI dalam sebuah wawancara publik mengatakan bahwa ada film-film lain yang secara kualitas lebih pantas diunggulkan. Adanya keberatan dari beberapa pihak tentang keputusan ini tak lain hanyalah karena 'mereka belum menonton film tersebut'. Saya sebenarnya setuju dengan alasan yang diberikan sang juri. Namun, di situlah letak masalahnya. Film-film tersebut mungkin saja lebih bagus dibandingkan film-film pencetak 'rekor' seperti AAC, tapi bukankah belum banyak yang menonton? Alhasil, FFI tahun ini terasa 'asing' dan' jauh'. NAMUN, QUE SERA SERA. Yang berlalu biarlah berlalu. Ke depannya, saya sangat berharap, semoga saja semangat untuk mendekatkan perfilman nasional pada masyarakat bisa kembali terlaksana. Berikut hasil FFI 2008 selengkapnya (diambil dari KompasEntertainment): KATEGORI FILM CERITA BIOSKOP FILM SECARA UTUH TERBAIK: Fiksi (PT. Surya Indrantara)
PENYUTRADARAAN TERBAIK: Mouly Surya (Fiksi)
SKENARIO CERITA ASLI: Joko Anwar/Mouly Surya (Fiksi)
SKENARIO CERITA ADAPTASI - TATA SINEMATOGRAFI: Ical Tanjung (May)
TATA ARTISTIK: Budi Riyanto (Under the Tree)
PENYUNTINGAN: Yoga Krispatama (Claudia/Jasmine)
TATA SUARA: Satrio Budiono (May)
TATA MUSIK: Zeke Khaseli (Fiksi)
PEMERAN UTAMA PRIA: Vino G. Bastian (Radit & Jani)
PEMERAN UTAMA WANITA: Fahrani (Radit & Jani) PEMERAN PENDUKUNG PRIA: Yoga Pratama (3 Doa 3 Cinta)
PEMERAN PENDUKUNG WANITA: Aryani Kriegenburg Willems (Under the Tree) KATEGORI FILM PENDEK: Cheng Cheng Po (B.W Purbanegara)
Penghargaan Khusus Tematik: Nyawa-Nyawa Yang Mendamaikan(Robby Ertanto)
Penghargaan Khusus Animasi: A Kite (K Deep Animation)
KATEGORI FILM DOKUMENTER: The Conductor (Andi Bachtiar Yusuf). Penghargaan Khusus: Kepala Sekolahku Pemulung (Jastis Arimba,Victor Benedict, Dolok Saribu),  | Their comments on Apel | |
 | thanks wie... i do really appreciate it |
 | happy birthday to you.. you live in a zoo.. you look like a monkey.... and you smell like one too....
wheheheheeee
kidding dam...
may all your wishes come true |
 | nasi udah menjadi bubur, ketut lupa ganti viewpoint nya, gak etis dunk character 'I' dipake disana, aku, or saya..
maksud gue, bos buat aja review nya, singkat aja, gak usah bentuk cerpen, kalo kaya gitu emang publish nya di akun adam aja..
minimal ada yang bisa dimuat..
bukannya ketut tau password esaonline(esazone) bukan?
makasi.. |
 | secara, tulisannya dah di-review, n ngegunain first person point of view, hehe.. kita memutuskan untuk menunggu editan pihak terkait untuk menulis dengan view yang lebih nge-'pas', tengs.. |
 | hoy ketut.. kalo event nya punya ESA jangan di publish di blog pribadi donk, kesannya gimanaaaa gitu, kan esa juga pengen 'terkenal'..... |
 | i've got it!!! Thanks, Bang... |
 | Halo Adam. Udah dapet bukunya? |
 | thanks... i'll give u all my best... but, never let me alone I'm nobody without you all |
 | Happy Birthday, Chairman... Show us the way... |
 | apel itu hijau bgitu jg matamu cheerleader!!!!!!!!!!!!!!!!!! ups.. chairman |
 | lam kenal juga... bagi saya, nulis itu bukan (sekadar) hobi, Bang.. Tapi kebutuhan..
|
 | Hobi nulis juga ya? Bagus dech. Salam kenal, aku Rony alumnus mahasiswa Antropologi Universitas Andalas Padang. Klik homepage pribadiku di http://malkashadiq.multiply.com. Thank you! |
 | book review: 20 cerpen indonesia terbaik |
 | posting baru: catatan perjalanan ke Ngalau Cigak, Sijunjung; juga ada artikel tentang mitos 'cantik-itu-putih' dan beberapa buah sajak. Selamat menikmati 'hidangan' saya. |
 | enjoy my tales and do not forget to leave some comment on... thanks for the visitors |
 | hai our new cemen... hehehe... how's ur day??
keep struggling for d movement of ESA.. key... |
 |
bahas wrote on Dec 29, '07 Selamat datang di blog saya... |
|